Tanpa Tanda Jasa Berkontribusi Nyata
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Demikian pula, lemabaga pendidikan akan besar dan berkualitas kalau menghargai jasa para pendirinya dan mereka yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan lembaga.
Bahwa, ada sosok-sosok yang berjuang membangun tanpa sorotan kamera, tanpa piagam penghargaan, bahkan sering tanpa penghargaan yang layak.
Mereka adalah para pendiri, manusia sederhana yang menyalakan cahaya pengetahuan di tengah keterbatasan di awal lembaga ini berdiri.
Mereka tak
memiliki gelar kehormatan, saat ini pun mereka tak kebagian jatah gaji negara
melalui sertifikasi guru atau program inpassing, tetapi setiap hari mereka tetap
setia, dan bahkan mereka yang melahirkan sebagian besar guru-guru yang ada saat ini.
Tidak lain adalah Ustad Munasan dan Ustad Syahri, dua tokoh sentral penggerak pendidikan saat Parit Tengah Baru waktu itu masih diselimuti kegelapan ilmu, bahkan mendapat stempel orang awam dari tetangga sebelah yang saat itu sudah memiliki lembaga pendidikan, sementara di sini belum ada.
Mereka berjuang menghadapi realitas yang jauh dari kata layak. Tekanan,
intimidasi dan penghinaan mereka hadapi dengan penuh kesabaran.
Selain itu, mereka berdua juga harus berjuang untuk bertahan
hidup dengan gaji minim, bahkan di bawah honor yang layak. Hidup sederhana, tak
ingin dihargai dan diakui sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan
bangsa di lembaga ini, Yayasan Pendidikan Miftahul Huda. Benar-benar pahlawan
tanpa tanda jasa bagi Miftahul Huda.
Dua sosok ini sangat layak disebut “pewaris peradaban”.
Peradaban ilmu pengetahuan di Miftahul Huda dengan realitas yang ada saat ini.
Sekalipun terdapat kekurangan, tentu tidak bisa dikatakan sebagai kegagalan.
Maka, generasi penerusnya yang mengajar di sini memiliki tanggungjawab untuk
menyempurnakannya.
Mereka berdua juga pantas disebut guru sejati, sebab guru sejati tidak pernah berhenti mengajar, bahkan ketika zaman berubah mereka tetap menjadi obor yang menerangi generasi muda dalam kegelapan kebodohan dan ketidakpedulian.
Di tangan mereka, nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan empati diajarkan, bukan hanya rumus dan teori. Mereka dulu mengajar di ruang kelas kecil, dinding dan bahkan lantai papan yang bolong.
Tetapi tetap sabar sebagai guru yang sedang menulis masa depan di papan tulis sederhana. Mereka berjuang dalam senyap, tidak butuh gelar dan tidak pula minta dihormati, karena mereka telah menjadi pahlawan sesungguhnya, pahlawan yang setiap hari berperang melawan kebodohan.
Mereka mungkin tidak dikenal oleh
publik, tetapi di hati murid-muridnya, nama mereka akan selalu dikenang.
Pertanyaannya: “Apa yang telah kita perbuat untuk melanjutkan
dan menyempurnakan perjuangan mereka”? Wallahu A’lam
Yang saya takuti adalah ketika saya selaku alumni tidak di akui sebagai murid dari sosok para dua pahlawan mifda dan guru lainnya.
Tidak ada yang bisa saya berikan selain pengabdian serta do'a untuk semuanya.
Sehat-sehat guruku jasamu akan aku kenang selalu.