Ekoteologi dan Dosa Ekologis
Ekoteologi merupakan salah satu perspektif teologis yang menghubungkan ajaran agama atau keyakinan dengan lingkungan. Dalam agama Islam, ekoteologi merupakan terjemahan dari tugas manusia sebagai "khalifah" di bumi. Dengan demikian, ekoteologi sejatinya adalah spirit ajaran Islam.
Saat ini Indonesia, dan juga dunia pada umumnya sedang dilanda degradasi ekologis. Kerusakan lingkungan yang mengakibatkan musibah seperti banjir, longsor dan kebakaran hutan kerap terjadi.
Merespon fenomena tersebut, Kementerian Agama mengusung konsep ekoteologi dalam setiap kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA). Ekoteologi menjadi salah satu fokus materi dalam kegiatan MATAMUDA di setiap madrasah.
Langkah ini patut diapresiasi.Bukan hanya karena agama memiliki pengaruh kuat di masyarakat, tetapi juga karena nilai-nilai spiritual mampu memberi dasar moral untuk mengubah perilaku kita terhadap alam.
Namun apresiasi saja tidak cukup. Pertanyaannya, sejauh mana ekoteologi bisa benar-benar menjadi gerakan nyata, bukan sekadar narasi berupa materi yang diberikan kepada murid baru, bukan sekadar jargon atau acara seremonial belaka?
Sebab kerusakan alam yang terjadi bukan karena tidak diketahui sebabnya, akan tetapi sengaja dirusak. Bahkan, para petinggi negeri ini yang mayoritas muslim terkadang abai untuk secara jernih memilih kebijakan yang ramah lingkungan. Penebangan hutan secara massal untuk alasan perkebunan, pengelolaan tambang yang tidak bijak dan seterusnya, merupakan upaya-upaya merusak alam yang disengaja. Dosa ekologis ini dianggap sebagai ladang pahala, padahal adalah ladang dosa.
Semua menyadari sesadar-sadarnya, bahwa dalam Islam, manusia disebut sebagai "Khalifah" yang berarti pemegang amanah untuk merawat bumi. Kerusakan alam atau lingkungan yang terjadi merupakan pengingkaran terhadap amanah tersebut.
Tetapi, dari pada tidak melakukan langkah preventif sama sekali, ekoteologi yang diusung Kemenag mudah-mudahan mampu mengembalikan makna "Khalifah" atau amanah merawat bumi menjadi kesadaran sehari-hari, bukan sekadar wacana dalam kegiatan MATAMUDA dan hilang tak berbekas setelah kegiatan selesai.
Harapannya adalah menjadi sebuah kegiatan yang mampu menjahit konsep ekoteologi ke dalam gaya hidup murid-murid sehingga menjadi manusia yang amanah dalam menjaga kelestarian alam. Kepada murid-murid kita berharap kerusakan yang ada saat ini tidak bertambah parah. Menjadikan mereka cikal-bakal manusia yang mencintai alam sebagaimana cinta terhadap dirinya sendiri. Tidak menjelma menjadi manusia perusak alam yang saat ini banyak sekali dijumpai.
0 Komentar
Tinggalkan Komentar