Deep Learning dalam Perspektif Islam
- Jum'at, 19 Juni 2026
- Administrator
- 0 komentar
Deep Learning dalam Tradisi Islam
Deep Learning atau pembelajaran mendalam bukan istilah asing dalam khazanah keilmuan keislaman. Al Ghazali, Ibnu Sina dan Al Farabi menjadi intelektual terkemuka bukan hanya karena hafalan, tetapi juga menghubungkan berbagai ilmu, mencari makna dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Mereka termasyhur sebagai intelektual (ulama) karena menggali ilmu dengan kesungguhan, memahami dengan mendalam dan mengamalkannya untuk kemaslahatan.
Hari ini, kita seperti terhipnotis bahwa hafalan menjadi titik tumpu, menitik beratkan pada hafalan, tanpa memberikan ruang yang cukup bagi eksplorasi pemikiran.
Saat zaman bergerak cepat kayaknya anak panah yang lepas dari busurnya dengan tantangan yang semakin kompleks, sistem belajar pun perlu berkembang.
Deep Learning bukan sekadar istilah baru, melainkan, menurut saya, adopsi dari sistem pembelajaran Islam yang dikembangkan para ulama tempo doeloe. Dengan kata lain Deep Learning adalah metode pembelajaran yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan murid yang menguasai teori, tetapi juga mampu berpikir kritis, inovatif dan adaptif. Kita membutuhkan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada pemahaman.
Deep Learning bukan sekadar metode untuk menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan tantangan dan perkembangan zaman, tetapi juga upaya untuk kembali kepada esensi pembelajaran sejati seperti tradisi pembelajaran ulama terdahulu.
Karenanya, hal ini menjadi kesempatan terbaik bagi madrasah untuk mengambil momen ini menuju harapan besar tercapainya pembentukan insan yang berakhlak mulia dan berkemajuan.
Perumusan langkah-langkahnya seperti berikut ini.
Pertama, menata ulang pola pembelajaran. Hafalan tetap urgen, tetapi harus menjadi awal bukan akhir dari proses pembelajaran. Perlu langkah-langkah mengajak murid berdiskusi, menganalisis dan menghubungkan ilmu dengan realitas sosial.
Kedua, memanfaatkan teknologi secara baik dan bijak. Seperti pemanfaatan tafsir interaktif, aplikasi kamus bahasa Arab, simulasi fikih dan e-learning berbasis AI.
Ketiga, rancang bangun kurikulum yang mendorong pemahaman mendalam.Kurikulum yang baik harus memberikan ruang bagi eksplorasi, refleksi, dan sintesis pemikiran.
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menyeimbangkan antara hafalan dan pemahaman, serta memastikan bahwa evaluasi pembelajaran lebih menitikberatkan pada analisis dan aplikasi ilmu, bukan sekadar pengulangan informasi.
Maka, paling tidak yang dibutuhkan adalah kemampuan guru menyusun modul ajar yang baik dan sesuai dengan narasi di atas. Langkah paling dasar ini untuk memulai pergeseran dari hanya sekadar ngajar menuju identitas dan idealitas sebagai guru yang profesional.
Line Up, Budi Utomo, 19 Juni 2026